Rabu, 11 Mei 2016

FIRST POST : Story about Kampung Jembatan Runtuh (fiksi)

  Assalamualaikum. 

Halo. Untuk posting pertama ini, aku akan memperkenalkan diri dan juga menceritakan sebuah cerita (iyalah emang nyeritain apa?). 
Jadi, ehem ehem hemm... *rapihin diri* 
PERKENALKAN SODARA-SODARAH~~~ NAMA SAYA K********** H**********! PANGGIL SAYA NISSA YAK~~~ SALAM KENAL! MWAH! MWAAAH! (pembaca: golok mana golok?) 
SAYA SAAT INI KELAS 7 SD (baca: 1 SMP)!!! SEKOLAH SAYA DI SMPIT FI!
MESKIPUN DIANTARA KALIAN GAK ADA YANG NANYA, TAPI SUDAH SAYA BILANG SAYA AKAN MEMPERKENALKAN DIRI!!! xDD
Apa cukup perkenalannya? Oh, saya rasa masih kurang lengkap. 
Alamatku di PCI 2 blok E 1 nomor 1! Silakan yang mau berkunjung, nanti saya suguhi es karbol rasa melati~ kalau mau, sunlight juga ada. Silakan dicoba~~~ maut menanti Anda. 

Cukup perkenalan dan basa-basinya. Kumulai ceritaku, ya. Sebelum itu, maafkan seluruh kekurangan cerita ini. #males
.
.
.
Kalian tau soal Kampung Jembatan Runtuh? 
Meskipun kalian sudah tahu, tetap akan kuceritakan. Aku bersikeras karena sebuah kejadian yang terjadi kemarin sore. 

Sore itu, aku dan dua sepupuku bermain di sawah di dekat jembatan yang runtuh itu. Mencari belut, katak, bahkan lele-lele kecil yang hidup di lumpur sawah. 
Ketika itu, aku menarik ekor yang keluar dari lubang belut. Memang kupikir ini belut, ekornya kecil dan licin. 
Tapi ternyata... 
"WAT DE? INI... KADAL?" yang kutangkap adalah seekor kadal. 
Kasihan sekali, kondisinya sungguh lucu dan ingin membuatku tertawa. Bagaimana tidak, kadal tanpa kepala? Dia masih hidup, kupikir kepalanya itu invisible atau tidak terlihat. 
"Mungkin iya, dia bisa jadi kepalanya tercemari kaporit dan menjadi sejernih ini. Saking jernihnya sampai jadi bening," ujar sepupuku. Namanya Ardi, dan adiknya bernama Marwa. 
"Benar juga. Kupikir kita perlu pergi ke dukun untuk menyembuhkannya." ucapku. 
"Eri, di sekitar sini enggak ada dukun. Adanya pak ustaz, mau bawa dia ke sana? Daripada jadi musrik karena mempercayai dukun, hayo." tanya Marwa. 
Akhirnya, kami bertiga pergi ke rumah pak ustaz yang dikatakan Marwa. 
"Assalamualaikum, pak ustaz!" 
"Waalaikumussalam! Eh ini adek betiga pada mau apa ke rumah saya? Bawa kadal kepalanya buntung, lagi. Masya Allah!" ujar pak ustaz melihat kepala Ubed. Itu nama yang diberikan Ardi kepada si kadal. 
"Iya pak, ini kita mau minta bapak untuk nyembuhin kepalanya, bisa kan?" tanya Marwa. 
Pak ustaz menyeringai dan berkata, "Oh, Insya Allah bisa, siniin kadalnya! Ayo masuk." 
Kami bertiga pun masuk ke dalam rumah si pak ustaz, dan... 
I-INI KENAPA BANYAK SESAJEN, AROMATERAPI, DAN KEMBANG GINI?!!
Aku jadi meragukan ustaz ini. Heiii, bahkan dia menjadikan sajadah sebagai taplak meja dimana sesajen dan kembang itu ditaruh. Ckck, ustaz macam apa dia ini?
"Pak... a-anu, kok..." 
Tiba-tiba, pak ustaz melepas sorbannya dan membuka gamisnya. Terlihatlah rambutnya yang acakambrul emeseyu dan baju rombeng warna hitam. Mata pak ustaz berubah menjadi merah. 
kemudian dia tangannya nguel-nguel gitu di atas Ubed yang ditaruh di mejanya. 
"Homminah homminah similikiti hubleh hublehh... fuuuh!" 
JRENG! 
Ubednya... 
Ubed... 
U... 
UBEDNYA NORMAL LAGI?!! 
"Wah makasih yah pak ustaz, Ubednya jadi normal lagi!" ucap Ardi senang sambil menggendong kadal itu. 
"Hihiih... sebenernya, saya dukun... bukan USTAZ!" teriak si pak ustaz tiba-tiba. 
"HAH? JADI KITA UDAH PERCAYA SAMA DUKUN DONG?!" 
Aku, Ardi dan Marwa pingsan berjamaah sambil bilang, "KAMPREET, EH, ASTAGFIRULLAAAH!" 
.
.
.
Dah! Selesai tamat deh ceritanya. 
Garing kan? Garing yaaa... hehehe~ #kokbangga
Yang penting saya udah post! Iyakan? (pembaca: sebetulnya kamu gak post juga gak apa-apa, malahan kita seneng! | Nissa: Ya Allah ih jahad. :'v)
Ya sudah, sekian dulu untuk postingan kali ini~ 
Assalamualaikum! ^v^